Beberapa musim ke belakang, dunia mode dan gaya hidup dihebohkan oleh fenomena quiet luxury. Sebuah konsep berpakaian dan berpenampilan tanpa logo mencolok, minim warna terang, namun menggunakan material premium yang memancarkan kesan elegan secara tersirat. Konsep ini sempat menjadi holy grail bagi anak muda perkotaan yang ingin tampil mahal tanpa harus terlihat pamer.
Namun, roda tren terus berputar cepat. Memasuki tahun ini, fenomena quiet luxury mulai menunjukkan tanda-tanda ditinggalkan oleh demografi mudanya. Para gen Z dan milenial kini mulai melirik gaya yang lebih ekspresif, berani, bahkan terkesan urakan.
Pertanyaannya, apa yang membuat sebuah tren yang dulunya diagung-agung kini ditinggalkan begitu saja? Bukan sekadar bosan dengan warna monokrom, ada pergeseran mental dan psikologis yang mendalam di balik perubahan gaya hidup ini.
1. Kejenuhan Akibat Standar Kesempurnaan yang Menekan
Secara psikologis, quiet luxury menuntut tingkat konformitas yang sangat tinggi. Kesempurnaan estetika—mulai dari kemeja linen tanpa kusut, warna krem yang bersih, hingga potongan busana yang kaku dan rapi—lama-kelamaan menciptakan beban mental tersendiri.
Bagi anak muda, hidup sudah penuh dengan tuntutan produktivitas dan ekspektasi sosial yang kaku. Ketika cara berpakaian mereka juga harus mengikuti aturan ketat agar terlihat “elegan secara natural”, fashion yang tadinya menjadi sarana ekspresi diri justru berubah menjadi seragam pengekkang. Keinginan untuk tampil bebas dari aturan tak tertulis ini memicu mereka untuk kembali ke gaya yang lebih santai dan apa adanya.
2. Hilangnya Ruang untuk Eksplorasi Identitas Personal
Masa muda adalah fase pencarian jati diri yang dinamis. Dalam psikologi perkembangan, identitas terbentuk melalui proses uji coba, eksperimen, dan keberanian untuk tampil beda.
Quiet luxury yang mengusung keseragaman palet warna (biasanya hitam, putih, beige, dan navy) serta potongan yang itu-itu saja, membatasi ruang eksplorasi tersebut. Ketika semua orang berpakaian dengan acuan estetik yang serba mirip demi mengejar validasi “berkelas”, keunikan individu justru tergerus. Anak muda mulai menyadari bahwa mereka tidak ingin terlihat seragam, melainkan ingin dunia melihat kepribadian unik mereka melalui warna, tekstur, dan gaya yang lebih berani.
3. Efek Kelelahan Emosional dari “Performa Kemapanan”
Meskipun quiet luxury diklaim sebagai bentuk kemewahan yang tenang dan tidak pamer, pada praktiknya, tren ini sering kali menjadi ajang pamer terselubung (flexing terselubung) di media sosial. Orang-orang berlomba-lomba menunjukkan bahwa mereka paham kualitas bahan cashmere terbaik atau merek-merek independen berharga fantastis.
Fenomena ini memicu kelelahan emosional atau emotional fatigue. Beban psikologis untuk terus-menerus memproyeksikan citra mapan, matang, dan berpendidikan tinggi membuat sebagian anak muda merasa lelah. Mereka rindu pada gaya hidup yang otentik, di mana pakaian tidak perlu merepresentasikan status sosial atau portofolio kekayaan.
4. Munculnya Kebutuhan Katarsis Melalui Dopamine Dressing
Setelah bertahun-tahun didikte oleh warna-warna netral yang tenang, psikologi manusia secara alami mencari keseimbangan. Di sinilah konsep dopamine dressing—berpakaian dengan warna-warna cerah, motif berani, dan gaya eklektik untuk meningkatkan suasana hati—kembali naik daun.
Otak manusia merespons warna dan tekstur yang meriah dengan pelepasan dopamin, hormon kebahagiaan. Di tengah tekanan ekonomi global dan situasi dunia yang sering kali terasa suram, anak muda membutuhkan pelarian emosional yang menyenangkan. Pakaian yang berwarna-warni dan ekspresif menjadi alat terapi instan untuk mendongkrak energi positif yang tidak bisa diberikan oleh nuansa redup quiet luxury.
5. Pergeseran Definisi Keren Menuju Keaslian Otentik
Standar “keren” di mata generasi muda telah bergeser dari kurasi yang sempurna menuju kejujuran personal. Era media sosial saat ini sudah terlalu jenuh dengan konten-konten curated aesthetic yang terasa palsu dan diatur sedemikian rupa.
Saat ini, apresiasi publik beralih pada kreator dan figur publik yang tampil apa adanya, memiliki kekurangan, dan berani menentang arus. Dalam hal gaya hidup dan fashion, meninggalkan quiet luxury adalah bentuk pernyataan sikap: bahwa menjadi diri sendiri dengan segala ketidaksempurnaannya jauh lebih bernilai daripada mengenakan topeng kesempurnaan yang mahal.
